Grafik Harga Dinar

Grafik Harga Dinar
25H Live Dinar Price Meter

Rekor, Harga Emas Kian Kinclong


Harga emas internasional kembali mencetak rekor tertingginya, setelah negara-negara Arab dikabarkan mendepak Dollar dan menggantinya dengan kumpulan mata uang dan emas untuk membayar transaksi minyaknya.

Harga emas di New York Mercantile Exchange melesat hingga US$ 1.045 per ounce pada perdagangan Selasa (6/10/2009). Beberapa jam sebelumnya, harga emas di London Bullion Market, harga emas juga menembus US$ 1.043,78 per ounce, melebihi level tertinggi yang pernah dicapai pada Maret 2008 di harga US$ 1,032,70 per ounce.

Selain oleh kabar dari negara-negara Arab, harga emas juga melonjak oleh terus merosotnya USD. Analis dari Barclays Capital, Suki Cooper mengatakan, pelemahan Dollar sepertinya terhubung dengan laporan the Independent soal adanya pertemuan rahasia negara-negara Arab untuk mengalihkan penggunaan Dollar. Dalam pertemuannya tersebut, negara-negara Arab dikabarkan akan menggunakan 'basket of currencies' yang berisikan Yen, Euro, USD, emas dan mata uang lainnya untuk bertransaksi minyak.

"Ini telah menambah kekhawatiran tentang peranan USD di masa depan di pasar finansial internasional," ujar Cooper seperti dikutip dari AFP.

Harga emas juga mendapatkan dukungan dari kecenderungan peningkatan inflasi. Emas dinilai investor sebagai tempat investasi yang paling aman untuk menghadang inflasi. "Dalam lingkungan dimana suku bunga secara nyata adalah nol, maka biaya untuk berpindah ke emas adalah nihil. Ini menjadi alasan bagi investor bahwa emas lebih diinginkan," ujar Jack Ablin, analis dari Harris Private Bank seperti dikutip dari Reuters.

Harga Minyak Melonjak

Selain harga emas, harga minyak mentah dunia juga menikmati kenaikannya seiring terus melemahnya USD. Pada perdagangan kemarin, kontrak utama minyak light sweet pengiriman November naik 47 sen menjadi US$ 70,88 per barel. Sementara minyak Brent pengiriman November naik 52 sen menjadi US$ 69,56 per barel.

Respon Rusia dan China atas Keroposnya Dollar AS

Assalamualaikum

US Dollar yang merupakan mata uang kertas utama di bumi ini sekarang menghadapi keraguan yang nyata. Bayangkan, dua negara besar sekaligus mulai meragukannya sebagai mata uang kertas yang dapat diandalkan untuk saat ini dan masa yang akan datang. Pernyataan ini tidak tanggung-tanggung dikeluarkan oleh para pemimpin negara besar yaitu Rusia dan China.

Dalam wawancaranya dengan televise CNBC, Presiden Rusia Dimitry Medvedev tidak canggung lagi untuk mengatakan bahwa perlu adanya mata uang global lain selain US Dollar untuk menghadapi situasi dunia yang saat ini sedang mengalami kesulitan ekonomi yang sedang kita hadapi. Sedangkan China lebih dahulu langsung membuat argumentasi mengenai hal ini saat Federal Reserve’s mengeluarkan kebijakan pencetakan uang kertas semaunya yang berkedok quantitative easing yang dapat menyebabkan seluruh negeri terbawa ke dalam resiko inflasi yang lebih tinggi dan kekuatan stabilitas US Dollar yang makin keropos tentunya.

Untuk menghadapi keraguan ini, maka Rusia terang-terangan berharap dan berusaha untuk menampilkan mata uang global selain US Dollar. Medvedev berharap bisa menjalankan ide ini dengan negara-negara yang memiliki cadangan besar seperti China serta negara berkembang seperti India dan Brazil atau yang lebih dikenal dengan blok BRIC (Brazil, Rusia, India China).

Dan China sendiri mulai melakukan langkah-langkah pengurangan ketergantungannya terhadap US Dollar secara bertahap dengan cara melakukan diversifikasi investasinya sebesar 40 miliar US Dollar per bulannya ke dalam investasi alternative yang tentunya tidak melibatkan US Dollar di dalamnya. Salah satunya adalah China memilih emas sebagai investasi yang menurut mereka dapat diandalkan.

Secara resmi dilaporkan bahwa saat ini China menggandakan simpanan emasnya menjadi 1,054 ton emas batangan, namun beberapa ahli menyatakan China melakukan pemborongan emas jauh lebih besar dari angka tersebut untuk mengamankan investasi negaranya. Dan sebenarnya sejak akhir 2008 China juga telah melihat gejolak yang dapat berujung kepada kejatuhan US Dollar ini, maka mulai Desember 2008 negara tersebut secara agresif melakukan langkah bypass terhadap dollar dalam transaksi luar negerinya. Bahkan China telah menandatangani currency swap agreements dengan Argentina, Hongkong, Malyasia, Belarusia dan juga negeri tercinta kita Indonesia.

Yang lebih seru lagi pada bulan Mei yang lalu saat presiden Brazil Luiz InĂ¡cio Lula da Silva mengunjungi China dan bertemu dengan Presiden China Hu Jintao kedua pemimpin negara ini sempat berdiskusi untuk menggantikan US Dollar dengan Renminbi sebagai mata uang dalam transaksi kedua negara tersebut.

Hal-hal inilah yang dilakukan oleh Rusia dan China serta negara lainnya yang mulai khawatir dan meragukan performance US Dollar yang belakangan ini mulai menunjukkan value sesungguhnya dari mata uang tersebut.

*Dan ini sekaligus membuktikan bahwa Kita Tidak Berteiak Sendirian.

Semoga manfaat
Wass
-dirhamsyah-
*Dinar Raihan

Mengenal Lebih Jauh Bretton Woods


Melanjutkan artikel sebelumnya “Mengenal Lebih Jauh The Fed”, kali ini kita tambah pengetahuan kita untuk mengenal lebih jauh “BRETTON WOODS”. Keduanya berkaitan. Sekali lagi, selain belajar ilmu yang baik, kita perlu juga mengenal hal-hal buruk / jahil untuk bekal menghindari serta bersiap mengatur taktik menghadapinya.

Bretton Woods bisa disebut perjanjian / kesepakatan untuk menjalankan sebuah system. Dinamai Bretton Woods karena kesepakatan ini, yang dihadiri 730 orang wakil dari 44 negara, ditandatangani di Hotel Mount Washington di Bretton Woods, New Hampshire, Amerika Serikat pada 1944.

Dalam system ini disepakati bahwa US Dollar berperan sentral dalam system moneter dunia. Dollar AS bisa dijadikan sebagai cadangan devisa. Selain itu, yang perlu ditulis tebal adalah ini : system ini menetapkan bahwa untuk setiap pencetakan USD 35 equal dengan satu ons emas sebagai backup. Bretton Woods menandai dimulainya era FIXED EXCHANGE RATE dengan backup emas.

**

Inisiatif untuk menjalankan kesepakatan dengan system ini sebetulnya diawali dengan menangnya Amerika di sebagian besar Perang Dunia II. Setelah banyak terjadi kekacauan moneter yang dimulai jauh pada abad 18 dan 19, berlanjut hingga Perang Dunia I, system ini diharapkan menjadi solusi. Yang perlu dicatat, Amerika sesungguhnya terimbas luar biasa oleh krisis besar yang disebut Great Depression pada tahun 1930-an dan berlanjut hingga mendekati akhir Perang Dunia II.

Sebagai penggagas Bretton Woods, bisa diduga hasilnya akan menguntungkan Amerika.

**

Secara perlahan tapi pasti, kesepakatan yang digagas Amerika ini dilanggarnya sendiri. Untuk membiayai pengeluaran pemerintah dan belanja militer Presiden Johnson, The Fed ternyata mengeluarkan uang melebihi kemampuan cadangan emasnya. Lalu satu isi kesepakatan yang membolehkan negara penandatangan untuk menyetarakan uangnya dengan emas juga mulai diingkari. Negara-negara pemegang Dollar tidak bisa serta merta menukarnya dengan emas, tentu saja karena emasnya tak cukup tersedia. Pada saat itu, Amerika hanya memiliki 22% cadangan emas dari yang seharusnya mereka miliki.

Lalu gelombang penolakan dan protes terjadi. Perancis dan Spanyol mulai menukarkan cadangan Dollarnya kembali ke emas sehingga cadangan emas Amerika terkuras (lebih detail, silakan baca artikel  “Kita Tak Berteriak Sendirian”).

Waktu berlalu, praktis hanya Jerman saja yang waktu itu “setia” dan bertahan menyimpan Dollarnya.

**

Pada tahun 1971, Amerika secara sepihak memutuskan untuk tidak lagi mengaitkan Dollarnya dengan cadangan emas yang mereka miliki, karena mereka sudah menyerah dan angkat tangan. Kejadian yang disebut Nixon Shock tanggal 15 Agustus 1971 itu telah membuat seluruh mata uang di dunia, termasuk Dollar yang menjadi sentral, tidak bisa lagi kita anggap memiliki nilai. Mata uang itu jadi ‘cek kosong.’

Empat bulan setelah kejadian itu, pada 18 Desember 1971, Smithsonian Agreement dikeluarkan. Perjanjian yang diteken bersama negara-negara industry G10 inilah yang kemudian secara resmi mengakhiri era FIXED EXCHANGE RATE yang ditetapkan dalam Bretton Woods menjadi FLOATING EXCHANGE RATE yang harus diikuti oleh seluruh negara anggota IMF (yang selalu gagal menjalankan fungsinya), termasuk Indonesia, hingga sekarang.

Terlepas dari apakah sesungguhnya seluruh proses di atas (termasuk krisis dan hancurnya ekonomi Amerika sendiri) adalah bagian dari scenario besar penguasaan dunia oleh segelintir orang (baca “Mengenal Lebih Jauh Siapakah The Fed” dan kita tahu siapa di belakangnya, tangkap juga makna “Smithsonian” dalam “Smithsonian Agreement”) atau terjadi begitu saja, apa dampak langsungnya pada dunia dan Indonesia sudah bisa dibayangkan.

Dalam kalimat sederhana, dampak langsungnya adalah Penjajahan Ekonomi yang berujung pada ketidak adilan.

Allahua'lam

Mengenal Lebih Jauh The Fed

“Some people think the Federal Reserve Banks are the United States government’s institutions. They are not. They are private credit monopolies which prey upon the people of the United States for the benefit of themselves and their foreign swindlers”

(Sebagaian orang mengira The Fed adalah institusi pemerintah AS. Mereka keliru. Mereka hanyalah institusi swasta yang memegang monopoli kredit yang menerkam rakyat Amerika untuk keuntungan diri mereka sendiri dan penipu yang menjadi rekanan mereka) *) Louis T. McFadden, Chairman of the Committee on Banking and Currency, 1932

Siapa yang bisa memaksakan kertas dihargai senilai emas? Siapa yang bisa menulis cek kosong tanpa pernah dikomplain?
Tak lain adalah The Federal Reserve System atau disingkat Federal Reserve, atau lebih pendek lagi The Fed.

Di bawah payung The Federal Reserve Act, 1913, The Fed-lah yang berhak menerbitkan dan mencetak Dollar. Bukan Departemen Keuangan (U.S. Treasury). Inilah keanehannya.*)

Jadi pembaca sekalian, ketahuilah bahwa kepentingan keuangan global, eksploitasi dan dominasi ekonomi yang lemah oleh yang ‘punya Dollar’, penjajahan ekonomi, krisis finansial, di dunia ini dikendalikan oleh sekolompok orang saja. Sekelompok orang yang motifnya materialisme dan duniawi semata.

Ini yang kemudian menjadi kesadaran kolektif, bahwa dunia ini sebetulnya telah dikuasai sepenuhnya oleh zionis sejak lama. Ya, sejak The Fed lahir pada tahun 1913. Mengapa?

Karena semenjak itu The Fed bercokol di Amerika, dan Dollar kemudian menjadi mata uang Amerika dan dijadikan patokan nilai mata uang lain. Dari situ kemudian terjadilah penjajahan demi penjajahan ekonomi.

Lalu siapa yang membidani dan menjadi sponsor utama The Fed? The Fed dilahirkan saat pemerintahan Presiden Woodrow Wilson oleh seorang bernama Paul Moritz Warburg, imigran dari Hamburg.

Anda benar, ia adalah seorang Yahudi. Bahkan rumah salah satu saudaranya di New York City, Felix Warburg, sampai sekarang tetap berdiri sebagai museum Yahudi.**)

Alan Greenspan, pensiunan pimpinan The Fed yang lengser pada 2006 pun, adalah Yahudi yang pandai dan ‘taat’. Ia menjabatnya semenjak masa Ronald Reagan pada 1987.

Meskipun di bukunya “Abad Prahara”***) sarat dengan propaganda tentang kebenaran sistem yang dibangun dan dilestarikan Amerika (melalui the Fed yang ia pimpin), upaya maksimal mereka dalam menyelamatkan Amerika dari krisis pasca 9/11, namun terdapat beberapa pengakuan yang ‘melegakan’ kita, misalnya bahwa Amerika memang “the true terrorist” ketika menginvasi Irak, dimana ia sebutkan, “Saya sedih karena tidak enak rasanya secara politik mengakui apa yang diketahui semua orang : perang Irak sebagian besar adalah soal minyak.”

Yang lebih mengejutkan lagi, di pendahuluan halaman 10, ia menyebutkan bahwa alat tukar yang kembali  kita galakkan saat ini, yaitu Dinar (dan Dirham), meski disana dia sebut sebagai “sistem barter”, adalah alat tukar fisik yang dapat kita duga mereka persepsikan, dapat mengancam sistem ekonomi AS.

Jadi, makin kita yakini bahwa penggunaan alat tukar yang syar’i yakni Dinar dan Dirham adalah salah satu pilar kebangkitan ekonomi Islam yang adil dan mensejahterakan. Dan sangat maklum, karena memang uang kertas yang kita gunakan saat ini adalah salah satu dari tiga pilar Satanic Finance, di luar riba dan ketentuan cadangan di bank. *)

Dan sesungguhnya Islam tidak mengenal uang kertas dari semula. Mata uang yang yang ada di dalam sejarah Islam adalah emas dan perak. Uang kertas yang ada sekarang bukanlah produk peradaban Islam. Karena itu, wajar apabila terjadi krisis dimana-mana. Uang kertas sekarang adalah “Legal Tender”, yaitu janji pemerintah (otoritas keuangan di sebuah negara, bisa Central Bank / representasi The Fed di tiap negara) yang menganggap bahwa kertas itu adalah uang. Jika suatu saat hukum menyatakan itu bukan uang, yang tertinggal hanyalah tumpukan kertas berwarna yang tidak bernilai apa-apa.****)

Sedangkan dinar emas? Ia dijamin oleh Allah swt, yang Maha Menggenggam Alam Semesta, ketersediaan dan ketetapan nilainya. Ia tidak bisa diintervensi, siapapun regulatornya. Maka amankan asset kita itu, mulai sekarang, di kantong-kantong dan pundi-pundi kekayaan umat Islam.

Karena uang kertas telah mulai makin tua dan tak lagi sakti. Ia dhaif. Ia tak sanggup dijamin nilainya oleh makhluk yang sama dhaifnya, yaitu manusia tempat salah dan alpa.

Allahua’lam

*) Satanic Finance - True Conspiracies, A. Riawan Amin, Celestial Publishing, 2007
**) http://www.israel-times.com/finance/2005/08/paul-moritz-warburg-founder-of-the-federal-reserve-banking-system-997/
***) Abad Prahara – Ramalan Kehancuran Ekonomi Dunia Abad ke-21, Alan Greenspan, Gramedia Pustaka Utama, 2008
****) Ekonomi Islam – Suatu Kajian Kontemporer, Ir. H. Adiwarman A. Karim, S.E., M.B.A., M.A.E.P., Gema Insani Press, 2001

Kita Tidak Berteriak Sendirian

Tidak benar jika ada yang berpikir bahwa keinginan untuk kembali ke penyimpanan dan alat tukar yang riil berupa emas baru saja dimulai. Seolah kita sendirian yang ingin kembali ke emas, dan hasilnya akan sulit sekali diraih.

Tahukah Anda, pada pertengahan abad ini, Charles De Gaulle, Presiden ke-5 Perancis, pernah menyerang secara terbuka eksistensi US Dollar dan mengundang negara-negara dunia lainnya untuk menciptakan rezim yang KEMBALI KE EMAS ?

Ini terjadi tahun 1965. Pada tahun itu, De Gaulle memerintahkan Perancis untuk menkonversi USD 150.000.000 ke dalam emas, dengan cara mengapalkan dollar-dollar cadangan devisanya ke Amerika dan mengambil cadangan emasnya. Tindakan ini diikuti Spanyol yang kemudian menukarkan USD 60.000.000 ke dalam emas.

Situasi ini berawal dari pencetakan uang besar-besaran oleh Amerika untuk membiayai perang Vietnam dan belanja program sosial Presiden Johnson. Akibatnya suplai Dollar berlebih. Suplai berlebih menyebabkan Dollar terdepresiasi terhadap mata uang lainnya.

Ujungnya, terjadi yang disebut “Dollar Overhang”, yakni nilai dollar yang disimpan sebagai cadangan devisa oleh negara-negara mitra Amerika, telah melampaui nilai emas yang disimpan Amerika sebagai cadangan setiap dollar yang mereka cetak, yakni sebesar USD 35 per ons emas.

Selain pesan yang kuat "bahwa sesungguhnya mata uang kertas itu (terutama Dollar sebagai ‘Ruler Currency’) telah lama ingin ditinggalkan oleh pihak yang ‘waras’ dan berpandangan jernih", ada 2 hal yang bisa kita pelajari juga yaitu :

1. Amerika telah sejak lama mampu menggalang banyak negara untuk menjadikan USD sebagai acuan nilai tukar sekaligus sebagai simpanan / cadangan devisa. Ini sebetulnya “prestasi terbesar The Fed”, dan khusus tentang siapa The Fed akan kita kupas pada tulisan berikutnya, Mengenal Lebih Jauh The Fed.

2. Apa perbedaan mendasar antara tahun sebelum tahun 1971 dan setelahnya? Sebelum 1971, penggunaan emas bisa dibilang ‘normal’ karena untuk setiap uang (kertas) yang dicetak, perlu cadangan berupa emas dengan berat tertentu. Pada tahun 1971, sebagai dampak dari ulah Amerika, berakhirlah perjanjian / system Bretton Woods, dan DOLLAR DICETAK SUKA-SUKA, MENGAMBANG dan KOSONG MELOMPONG.

Makin jelaslah definisi Uang FIAT atau UANG HAMPA itu. Siapa yang pegang kendali? Tentu Amerika (The Fed) yang memiliki wewenang mencetak Dollar. Khusus Bretton Wood, akan diuraikan terpisah pada tulisan berikutnya.

Semoga bermanfaat.
Allahua’lam

*) buku SATANIC FINANCE karya A. Riawan Amin

Kemana Kita 'kan Melangkah


Dua tahun belakangan ini sebelum krisis global terjadi, banyak individu maupun organisasi yang bermain di pasar modal lokal maupun internasional menikmati keberuntungan yang tidak sedikit jumlahnya, setidaknya memang itulah yang ditawarkan oleh pasar modal yang semu itu. Lalu datanglah krisis global yang melanda dunia yang kini berstatuskan terkurung di dalam sistem ekonomi liberal yang bertanggung jawab atas imbas negatif yang ditimbulkannya terhadap masyarakat bumi ini.

Karena kita semua berada dalam sistem ekonomi liberal yang sama dan telah diciptakan oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab untuk menguntungkan diri mereka sendiri dan merugikan sebagian manusia lainnya maka tentunya sistem ini sangatlah tidak sesuai dengan nilai-nilai ekonomi islam yang seharusnya kita dukung yaitu sistem ekonomi yang berusaha mensejahterakan pelakunya tanpa menzalimi pihak lain yang mana keuntungannya dapat dirasakan bersama dan kerugiannya dapat ditanggulangi bersama tidak seperti anjloknya saham yang terjadi belakangan ini dimana seseorang dapat mengalami kerugian yang cukup banyak akibat tindakan pihak lain. Dan kenyataannya dalam sistem ekonomi liberal yang sudah kebablasan ini nilai yang diberikan kepada saham-saham tertentu tidaklah mencerminkan nilai yang sesungguhnya, hal ini jugalah yang terjadi pada uang kertas yang kita biasa gunakan untuk melakukan transaksi ekonomi di dunia ini. Maka tidaklah membingungkan kemampuan daya beli uang kertas makin hari makin melemah saja, seingat saya dahulu dengan uang 15.000 perak kita dapat membeli satu ekor ayam di pasar namun sekarang 15.000 perak hanya cukup untuk membayar makan siang kita saja.

Setelah dunia sadar akan kerugian yang diterimanya maka berbondong-bondong saham dilepas dan orang-orang lebih nyaman memegang uang kertas dan menyimpannya di dalam bank-bank tertentu baik dalam bentuk tabungan maupun deposito. Inilah rasa aman yang salah menurut saya. Coba bayangkan dan hitunglah dengan adanya penurunan kemampuan daya beli uang kertas dan inflasi rata-rata yang terjadi dan telah kita alami sebelumnya maka dapat kita simpulkan tak ada satupun produk perbankan saat ini yang dapat memberikan keuntungan yang tepat pada nasabahnya.


Saran kami, gunakan uang-uang Anda untuk menggerakkan sektor riil yang ada di lingkungan masyarakat Anda masing-masing karena investasi riil yang dikelola dengan baik merupakan peluang utama dalam meraih keuntungan yang nyata. Atau jika Anda terlalu sibuk untuk menjalankan hal ini setidaknya pilihlah platform investasi yang telah terbukti tangguh bahkan menjadi solusi bagi investor dalam menghadapi krisis global kemarin, yaitu investasi yang mengizinkan Anda tetap menguasai asset equal dengan nilai yang telah Anda investasikan. Bukan hanya selembar kertas yang tak bermakna seperti saham, dan pilihlah platform investasi yang dapat memberikan return lebih besar dari nilai inflasi yang terjadi di negara ini. Dinar yang berbasiskan emas merupakan pilihan terbaik sepanjang masa untuk melakukan investasi tersebut. Perhatikan graphic performance yang dapat Anda lihat dalam blog ini.

“Jagalah harta-harta mu dan manfaatkan dalam jalan kebaikan semoga menjadi barokah bagimu dan umatmu“

-Wass-