Grafik Harga Dinar

Grafik Harga Dinar
25H Live Dinar Price Meter

Mengelola Harta : Banyak yg tak Bikin Lalai, Sedikit yg tak Bikin Lupa


Dengan alasan apapun, Islam menolak penyakit kemiskinan menjangkiti umatnya.

Ali bin Thalib r.a. yang kita kenal zuhud berkata, "Seandainya kemiskinan adalah laki-laki, maka aku akan membunuhnya." Dari ungkapan ini juga kita makin pandai memahami sosok Ali r.a. sendiri : zuhud (tak mencintai dunia meski harta ditangannya) berbeda sama sekali dengan miskin (bermental peminta, tak punya kekuatan harta). Zuhud adalah meninggalkan dunia,by choice. Miskin adalah ditinggalkan oleh dunia.

Selain itu, ucapan beliau bisa dimaknai sebagai motivasi untuk berusaha keras mencari penghasilan (sebagai individu), atau memberantas kemiskinan di lingkungan sosial (sebagai anggota masyarakat) dengan zakat dan shadaqoh.

Islam menolak kemiskinan karena ia melemahkan sendi-sendi kekuatan rumah tangga, masyarakat dan sendi kejayaan Islam dalam skala besarnya. Dan kita menemukan bahwa diantara pilar yang menentukan kebangkitan Islam adalah kekuatan maaliyah (harta). Diluar itu adalah quwwatu iman, fikr (pemikiran), amal dan ijtima'iyah (sosial).

Miskin membuat umat ini mudah sekali menyerahkan kehormatan dan aqidahnya. Mudah berhutang, mudah tunduk, mudah menyerah.

Pula, lihatlah bagaimana Rasulullah saw. 
mengajarkan doa yang berkaitan dengan harta, dalam dzikir harian yang sangat dianjurkan kita baca setiap pagi dan petang :
1. Allahumma inni 'audzubika minal hammi wal hazan, wa a'udzubika minal ajsi wal kasal, wa a'udzubika minal jubni wal bughl, wa a'udzubika min gholabatiddaini wa kohrirrijal
2. Allahumma inni 'audzubika minal kufri wal fakr, wa a'udzubika min adzabil kobri laa ilaaha illa anta

Yang pertama doa terhindar dari lilitan hutang dan kesewenang-wenangan orang lain, menunjukkan pentingnya mandiri secara ekonomi. Ya Allah aku berlindung kepada Mu dari rasa gelisah dan sedih dan aku berlindung kepada Mu dari rasa lemah dan malas dan aku berlindung kepada Mu dari sifat pengecut dan kikir dan aku berlindung kepada Mu dari belitan hutang dan penindasan orang.

Yang kedua kemiskinan bahkan disetarakan dengan kekafiran dan azab kubur, hingga kita harus secara khusus meminta pada Allah agar terhindar darinya. Ya Allah aku berlindung kepada Mu dari kekafiran dan kafakiran (kemiskinan), ya Allah aku berlindung kepada Mu dari azab kubur .
Tiada tuhan melainkan Engkau.

Kita harus keluar dari hutang dan kaya.

Tolak tawaran hutang betapapun makin sulitnya. Tawaran-tawaran hutang konsumtif itu kini bahkan telah masuk lebih dalam. Dalam bentuk selebaran, SMS, telepon-telepon manis, menunggu kita terpeleset masuk dalam jerat hutang dan bertumpuk riba. Jika memang harus, berhutanglah untuk keperluan produksi. Hutang konsumtif pasti menghancurkan, tak ada keraguan. Jika harus memilih lagi, berhutanglah untuk keperluan bisnis atau produksi itu dengan objek dan prosedur yang syar'i. Berakad dengan bank Islam misalnya, baitul maal, atau komunitas-komunitas bisnis Islam.

Setelahnya, perkeras usaha. Aktivitas ekonomi seorang muslim jelas berkorelasi dengan pahala. Ucapan Umar ibn Khattab r.a. : “Wahai manusia, demi Allah, sungguh bila aku mati di antara dua kaki untaku di kala aku mencari hartaku di muka bumi, lebih aku sukai daripada aku mati di atas tempat tidurku.”

Islam mengatur bagaimana kekayaan dicari, dikelola dan dikeluarkan.

Setelah bekerja keras, simpan yang seperlunya untuk keperluan-keperluan jangka panjang keluarga, misalnya untuk pendidikan anak, haji, membeli tanah dan rumah, melunasi hutang jangka panjang, dan lainnya. Caranya : simpan dalam bentuk Dinar emas. Selain kebal penyakit inflasi juga anti depresiasi nilai tukar. Masalah ini sudah sering kami bahas di berbagai tulisan.

**

Entah mengapa sangat keras ajaran tentang betapa 'sengsaranya' hidup kaya di tengah-tengah kita. Kita sering dengar ceramah-ceramah tentang : "Jadi orang kaya tu susah, karena lebih lama diinterogasi saat yaumil hisab nanti", lalu "Untuk apa kaya, biar miskin yang penting bahagia".

Mengapa tak ditampilkan fakta lainnya, misalnya betapa Abdurrahman bin Auf diriwayatkan akan "Menuju surga dengan merangkak (karena mudahnya)" disebabkan kekayaannya yang banyak itu selalu mengalir untuk perjuangan kaum muslimin?
Atau mengapa selalu ditampilkan seolah kaya tak bisa bahagia. Mengapa jadi ungkapan kontra "miskin asal bahagia" padahal sangat mungkin terjadi harmoni "kaya dan bahagia"?

Yahudi yang jumlah pemeluknya hanya 15 juta, adalah ruler community. Dunia ini taat di kakinya, terlepas baik-buruk ulah dan upayanya. Terlepas umat lain jadi korban dan babak belur karenanya.

Bayangkan jika penguasaan atas amanat kekayaan di muka bumi ini ada di tangan 1,5 milyar muslim yang sholeh dan amanah, betapa makmur dan sejahteranya bumi ini jadinya.

Terakhir, kita juga perlu menyadari bahwa Allah melebihkan sebagian hamba-hamba-Nya atas sebagian yang lain dalam hal rizki, sebagai ujian masing-masing. Seperti pada firman-Nya di Surat Az-Zukhruf 32 dan Al-‘Ankabut 62, Allah menguji orang yang diberi-Nya keluasan rizki, bagaimana dia bersyukur. Sebagaimana Allah juga menguji hamba yang memiliki keterbatasan rizki, bagaimana mereka bersabar.

Sesungguhnya elok nian bagaimana Islam mengajarkan kita untuk memilih sikap terbaik dalam berbagai situasi. Islam meminta kita berprinsip, agar kaya sekaligus dermawan atau miskin dengan harga diri. Islam juga mengajarkan agar kita menjamu kemiskinan dengan sabar, dan mempertemukan kaya dengan syukur.

Baik pula jika kita berdoa ala Umar ibn Khattab, yang kutipannya menjadi judul tulisan ini : “Ya Allah, janganlah Engkau memperbanyak kepadaku dari dunia ini lalu aku melampaui batas, dan janganlah Engkau mempersedikit kepadaku darinya hingga aku lupa. Karena sesungguhnya sesuatu yang sedikit dan mencukupi lebih baik daripada yang banyak namun melalaikan.”

Allahua’lam

Selesaikan Hutang Jangka Panjang Anda dengan Dinar

Karena orientasi simpanan Dinar dan emas pada umumnya jangka panjang, maka jelas ia bisa menjadi solusi keuangan yang sifatnya jangka panjang pula. Misalnya hutang jangka panjang, apalagi di atas 5 tahun. Atau simpanan dana pensiun. Atau haji. Makin panjang durasinya, makin jelas manfaatnya.

Dalam pembahasan tentang hutang jangka panjang, kita ketahui yang dapat dikategorikan hutang jangka panjang adalah misalnya KPR (Kredit Pemilikan Rumah) atau Kredit Usaha dan beberapa Kredit Multi Guna. Kredit seperti ini biasanya rendah bunga / bagi hasilnya, atau ringan cicilannya.

Namun sebagaimana hutang lainnya, meski cicilannya bisa jadi tak terlalu menyiksa, kita perlu segera melunasinya jika memungkinkan. Selain ancaman di kubur dan akhirat bagi orang yang berhutang (tanpa keturunan kita bisa melunasinya), kita juga ingin membebaskan pikiran dari berbagai beban hutang agar menjalani kehidupan dengan lebih tenang.

Selain itu, gaya hidup berhutang harus kita tinggalkan. Jika melihat sejarah, iming-iming kemudahan berhutang (padahal dengan kerepotan di belakang hari) sudah ditawarkan para bankir Yahudi pada jaman Dinasti Abassiyah kepada para pejabat negara. Sebaiknya kita tak lestarikan lagi kebiasaan ini.

Sekarang, mengapa tak coba biarkan Dinar yang ‘bekerja’ melunasi hutang jangka panjang Anda ?

Mari ambil ilustrasi.
Kita memiliki hutang sebesar Rp 50.000.000 dengan cicilan Rp 700.000 per bulan (Rp 8,4 jt per tahun), jatuh tempo 10 tahun. Dalam kasus ini kita bisa dengan ringan menunaikan cicilan selama 2 tahun. Ketika masuk tahun ketiga, Allah karuniakan rizki lebih sehingga kita bisa memiliki spare penghasilan sebesar Rp 500 ribu ekstra untuk membayar hutang. Apa yang sebaiknya dilakukan dengan Rp 500 ribu ini? Memutuskan untuk memperbesar cicilan menjadi Rp 1 juta? Sebaiknya tidak.

Kita akan coba alihkan kelebihan itu dalam bentuk Dinar. Selain untuk menutup hutang, kita akan lihat bahwa Dinar itu juga akan menjadi investasi yang bermanfaat untuk simpanan dan mengembangkan asset.

Selama 3 bulan, Rp 500 ribu itu akan bisa dikonversikan ke dalam Dinar (asumsi Dinar saat ini sekitar Rp 1,5 juta), sehingga dalam setahun kita akan dapatkan 4 keping Dinar.
Pada tahun berikutnya, harga Dinar naik hingga mungkin dengan dana yang sama kita hanya bisa dapatkan 3 keping Dinar. Demikian juga pada tahun berikutnya.

Total pada tahun ke tiga menabung dalam bentuk Dinar, kita telah memiliki 10 keping (4 di tahun pertama, 3 di tahun kedua, 3 di tahun ke tiga). Pada 3 tahun mendatang, 10 keping itu telah senilai lebih dari Rp 20 juta. Sementara saat ini, 10 keping itu hanya senilai 15 juta.

Selama 3 tahun itu pula (atau pada tahun ke-5 hutang berjalan), kita tetap melakukan cicilan bulanan senilai Rp 700.000, sehingga pada saat kita memiliki Dinar senilai Rp 20 juta, pokok hutang kita tinggal Rp 29 juta.

Dengan 10 keping Dinar di tangan (yang didapat pada tahun ke-5) dan melihat pertumbuhan nilai historis sebesar 25% per tahun, maka pada tahun ke-7 (3 tahun sebelum jatuh tempo) Dinar kita telah insha Allah mampu mencukupi untuk membayar sisa pokok hutang.

Antara tahun ke 5 s.d ke 7 itu, kita tetap menambah jumlah Dinar untuk keperluan investasi, bukan untuk membayar hutang.

Sehingga tepat ketika hutang jangka panjang kita lunas lebih cepat dari seharusnya (3 th sebelum jatuh tempo), di saat yang sama kita juga memiliki simpanan Dinar emas sebagai investasi. Atau jika ingin lunasi lebih cepat, bisa jadi pada tahun ke enam kita alokasikan seluruh simpanan Dinar emas untuk melunasi hutang. Sehingga pada tahun berikutnya Anda bisa benar-benar leluasa untuk berinvestasi, karena terbebas dari hutang.

Wallahua’lam

Written by Endy Junaedy Kurniawan